Wednesday, June 13, 2018

SELAMAT HARI RAYA AIDILFITRI 1439



Rossem

Ramadhan pergi meninggalkan kita. Perpisahannya sangat berat.  Ibarat berpisah   dengan seorang kekasih yang sangat disayangi. Tahun depan bertemu lagi?  Itu juga belum tentu,  kerana manusia itu hidupnya ibarat berteduh di bawah sepohon pokok rendang  daripada panas terik matahari. Bila matahari condong, panasnya  akan terkena dan kita pasti  tidak  dapat menghindarinya lagi.

            Di akhir Ramadhan seperti ini, hati kita terasa sangat kerdil bila mengingatkan kebesaran dan kekayaan Allah SWT. Barangkali disebabkan  selama sebulan  kita sangat  dekat denganNya, makanya  hati nurani  pun jadi bersih kayak  sehelai kain putih. Jalan berfikir kita pun jadi mudah. Terutama dalam   mengkoreksi diri,  mencari natijah yang terbaik untuk perjalanan hidup seterusnya. 

Merenung ke dalam diri.   Rupanya seseorang yang bernama manusia itu, yang dikatakan gagah, hebat dan igonis, namun jika diukur dengan keluasan alam raya ini, fizikal manusia itu cuma sebesar hama atau sebesar  habuk paling halus. Contohnya,  seseorang yang  berdiri di depan rumah, ia  tidak bisa dilihat oleh orang yang berada di belakang rumah. Yang berada di  kota,  tidak bisa dilihat orang yang berada di desa. Apa lagi yang berada di Malayisa, ia tidak bisa tampak orang  yang berada di Sulawesi atau di mana-mana  belahan dunia. Kerkerdilan itu hanya bisa terjelma  bila kita sering mendampingi Yang Maha Hebat, yakni Allah SWT. 

Belum lagi diukur dengan planet-planet yang berada di luar lingkaran bumi seperti Zahrah, Nuptune,Pluto dan sebagainya. Jika diukur dengan cakarwala yang  disebut sebagi keluaga matahari itu pasti puluhan kali lipat kekecilan kita sehingga kuasa mikroskop yang tercanggih sekalipun tidak bisa membesarkan imej seorang manusia.

Menyedari kerkerdilan itu rupanya mengangkat derjat kita ke satu tingkat pemikiran; siapa sebenarnya kita  di sisi Allah SWT.

Asal kejadian manusia adalah  dari setetes air mani lelaki bercampur dengan air mani perempuan. “Sesungguhnya Kami ciptakan manusia daripada setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan ) perintah dan larangan, kerana itu kami jadikan dia mendengar dan melihat” (al-Quran. S:al-Insan ayat 2).

Ayat selanjurnya “Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dari saripati yang berasal dari tanah. Kemudian Kami jadikan air mani (yang) disimpan dalam tempat yang kukuh. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah,  lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang, lalu tulang itu kami bungkus dengan daging,  kemudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain.” (al-Quran: S al-Mu’minuun, ayat 12,13,14).

Allah SWT menjadikan manusia tiada lain melainkan supaya lisan manusia itu berbicara, memberitahu pada yang tidak tahu, bahawa  Tuhan itu wujud. Makhluk  itu tidak terjadi sendiri melainkan ada pembuatnya. Ada kuasa yang menciptakannya. Dan kuasa itu tentulah yang Serba Maha.  Dialah Allah SWT. Tuhan semesta alam.
Kalau bukan makhluk yang bernama manusia, maka siapa lagi bisa berbicara tentang kewujudan  Allah SWT? Tentang Kemahabesaran Allah SWT?  Tentang kehebatan Allah SWT? Sedangkan gunung, lautan, gurun pasir, tasek, sungai, pokok tidak punya lidah untuk berbicara tentang itu.

Manusia punya lidah, dengan  lidah  dapat membentuk lesan. Dengan tangan dapat menulis ungkapan. Semuanya boleh dimanfaatkan  untuk menyampai sesuatu, sama ada yang hak dan batil. Alangkah ruginya bila lesan dan pena digunakan untuk  menyampaikan yang batil. Dan bukan sedikit manusia yang telah tergelincir lidahnya saat  bebicara. Wahai Ali, kuasailah lesan mu  dan biasakan dia mengucapkan yang baik, benar, bertanggungjawab, kerana tidak ada yang lebih berbahaya bagi manusia pada hari kiamat yang melebihi ketajaman lesannya. Demikian wasiat Rasulullah saw pada Sayadina Ali RA.

            Tentang bicara, selanjutnya Rasulullah saw berwasiat pada menantu dan sepupunya Sayadina Ali RA; Wahai Ali, hendaklah engkau  sentiasa jujur dalam bicara, dan menjaga perbicaraan dan amanat, dan hendaklah berjiwa sosial dan menjaga perut. Jangan berdusta kerana dusta itu menghitamkan muka dan  bila seseorang sentiasa berdusta ia dinamakan pendusta di sisi Tuhan, dan bila ia benar maka ia akan dinamakan di sisi Allah sebagai orang yang benar. Sesungguhnya dusta itu akan menjauhkan iman. 

            Di hari raya aidilfitri yang mulia ini marilah kita merubah paradegma kita daripada yang tidak baik kepada yang lebih baik. Jadilah kelmarin itu sebagai madarasah, agar kehidupan di hari mendatang  lebih terjamin dan  kita tidak lagi akan mengeluh; oh! Aku tersilap.

            Selamat Hari Raya Aidilfitri .Maaf  zahir batin.

No comments:

Post a Comment