Friday, March 9, 2012

Negeri Kelantan Seindah Namamu: Oki Setiana Dewi




Oleh: Rossem

Artis itu memulakan ucapan  dengan kata-kata yang sangat menyentuh hati nurani: Pertama kali aku datang ke Kelantan, lantas aku jatuh cinta pada Tok Guru, seorang yang luar biasa, zuhud dan sentiasa merendah diri.

Ribuan khalayak,  majoritasnya anak muda yang memenuhi gedung Kelantan Trade Centre (KTC) malam itu diam seketika  saat mendengar kata-kata yang dilontarkan artis cantik yang melakonkan peran Ustazah Ana dalam filem “Ketika Cinta Bertasbih” Oki Setiana Dewi.

 Khalayak sepertinya   terpukau bila sang artis pujaan mereka dengan suara penuh kelembutan   memuji negeri Kelantan dan Menteri Besarnya, Tok  Guru Haji Nik Abdul Aziz Nik Mat. 

Sekali pandang mungkin orang tersalah tanggapan,  apakah ia benar-benar seorang artis filem dan sinatron terkenal Indonesia, kerana  penampilannya  tidak seperti majoritas  artis-artis lain  yang sering mendedahkan aurat, sebaliknya Oki Setiana Dewi mengenakan jilbab labuh mentutupi sehingga paras dadanya.  Bertambah cantik dan ayu bila dipadankan dengan baju warna unggu yang dipakai malam itu.

“Oki memakai jilbab bukan disebabkan mahu  menghadiri acara “Bicara Selebriti” yang dianjurkan Kerajaan Negeri Kelantan, di Kota Bharu, tapi Oki memakai jilbab sejak usia 16 tahun dan sebelum berlakon filem” tutur Oki.

Ketika usianya 16 tahun   ia bertekad mahu menjadi seorang solehah , meskipun ia menyedari ilmu agamanya sangat minimum ketika itu. Namun telah tertanam dalam hati nuraninya satu perasaan bahawa perjalanan hidupnya kini menuju Allah SWT. Memakai kerudung adalah satu perintah agama,  untuk menjaga keselamatan wanita,  justeru tiada alasan untuk  muslimah mengingkarinya. 

Sehingga jika datang keinginan untuk melakukan hal-hal yang ditegah agama, ia teringat kerudung yang dipakainya, lantas tak jadi melakukannya. Kata Oki yang ketika itu tinggal di Batam, Riau bersama orang tuanya.

Namun memakai jilbab atau kerudung dalam usia muda pastinya banyak cabaran. Pernah orang bertanya, kenapa sih kamu pakai kerudung, bukankah itu pakaian Arab? Oki lantas menjelaskan, ini bukan pakaian Arab tapi pakaian Islam bagi muslimah. Beritahu Oki di acara bicara Selebriti malam itu.

Oki sejak dari kecil bercita-cita mahu jadi artis, namun setelah berubah ke jalan Allah dengan   memakali kerudung dalam usia 16 tahun, ia merasakan peluangnya untuk menjadi artis tertutup rapat. Cita-citanya harus dikuburkan  kerana mana ada direktor filem mahu mengambil wanita yang memakali kerudung sebagai artis. Lantas Oki bercita-cita pula mahu menjadi guru.
Selanjutnya,  kata Oki “Suatu hari, tanpa diduga,  terima telefon dari direktor filem. Kamu ditawarkan berlakon filem. Belum usai percakapan,  Oki beritahu, aku sekarang memakai jilbab. Mana bisa…Jawab direktor.  Bisa!”

Mendengar tawaran itu,  cita-citanya mahu jadi artis filem seperti hidup kembali.  Ia berlari ke musolla lantas  mengadu kepada Allah SWT. “Ya Allah, aku sekarang sedang berlari menuju-Mu. Manakala  rezeki  juga di tangan-Mu. Jangan persulitkan rezekiku lantaran jilbab ku ini. Namun paling penting, apakah dengan pekerjaan ku (rezeki) sebagai pelakon filem  kelak akan berpaling dari-Mu?

Oki diterima berlakon untuk filem “Ketika Cinta Bertasbih”  yang diangkat dari novel Islami terkenal hasih karya Habiburrahman El-Shirazy dan diberi peranan  sebagai ustazah Ana. Filem itu bukan saja diminati di Indonesia, bahkan Malaysia.

Menurut Oki, maklumbalas  yang diterimanya selepas publik menonton filem KCB, ramai remaja perempuan mula memakai kerudung. Ini adalah kesan positif yang diterima mereka lewat filem itu. Dan ini merupakan salah satu dari uslud dakwah. 

Mengakhiri  “Bicara Selebriti” Oki mendeklamasi sebuah puisi terkait dengan pengalamannya selama 4 hari di Kelantan dan kesempatan berjumpa dengan Menteri Besar Tuan Guru Nik Abdul Aziz  Nik Mat di kediaman rasmi Tok Guru, di JKR 10. 
Negeri Kelantan Seindah Namamu
Tanah Serendah Sekebun Bunga
Negeri Tadahan Wahyu
Cik Siti Wan Kembang
Cukup indah namamu
Seindah negerimu
 Duhai
Wajahmu nan indah
Persis Jeddah
Yang pernah ku lewati
Taat menjunjug al-Quran
Teguh menggalas syariat
Yang tidak pernah goyah
 Tersentuh hati kudus ku
Lantaran aku di sini
Biar tidak pernah ku duga
Bertemu seorang ulama’
Yang dicintai rakyatnya
Lalu…
Kuntum rindu yang lama tersimpan
Terubat jua akhirnya
Biar sekelumit Cuma
 Beruntung rakyatnya
Menumpang teduh seorang ulama’
Yang lembut… tapi tegas beribadat
Yang pengasih…namun tidak goyah
Pada percikkan kealpaan dunia
 Pasti aku merindui mu lagi
Entah kapan bisa diubati
Cuma setitis doa bisa ku titip buatmu
Moga sejahtera selamanya
Memacu
Membangun Bersama Islam
Moga kita bertemu kembali
Selama berada di Kelantan, Oki juga meluncurkan buku novel terbaru beliau selepas  novel pertama Melukis Pelangi di Perpustakaan Negeri Kelantan. Manakala pada pagi Jumaat Oki menghadiri kuliah mingguan Tok Guru di Medan Ilmu, Kota Bharu.
Seperti kata moderator pada malam itu, pengacara undangan dari TV Hijrah, Amim Idris, Negeri Kelantan sejak dulu menjadi tempat artis-artis yang berhijrah kepada kehidupan lebih Islami meluahkan perasaan dan isi hati mereka untuk  dikongsi bersama bagi menghidupkan dakwah Islamiyyah dan memantapkan iman.

Tahniah penganjur khususnya YB Ustaz Ahmad Bhaiki Atiqullah.

Sunday, March 4, 2012

Mengunjungi komunitas umat Islam Guangzhou

 Oleh: Rossem

DI DINDING sebuah restoran China Muslim di Guangzhou, China,  tergantung sebuah potret seorang pemimpin Malaysia. Tokoh nasional Malaysia itu bergambar bersama pemilik  restoran Haji Abdullah. Menurut keterangan yang tertulis di bawah foto tersebut, foto direkam tanggal 5 Februari 2005 ketika pemimpin itu mengunjungi komunitas umat Islam di Guangzhou.

Keterangan lain yang ditulis pada foto itu selain bahasa China adalah bahasa Inggris; Partai Islam Semalaysia (PAS) spritual leader Nik Abdul Aziz Nik Mat. Dan dicatatkan juga tanggal kedatangnya. Turut bergambar adalah Sekteratir Nik Aziz kala itu, Nik Azlan.

Restoran Abdullah adalah antara restoran makanan halal yang menghidangkan masakan dari wilayah otonomi umat Islam Xinjiang yang lezat,  menjadi pilihan utama  Muslim China dan pelancong Muslim dari seluruh dunia yang berkunjung ke Guangzhou. 

Siapapun yang menjamu selera di restoran yang terletak di Jalan Eighth Shaogmoa pasti dapat melihat potret Mursyidul Am dan Pemimpin PAS Kelantan merangkap Menteri Besar, Tuan Guru Dato’ Haji Abdul Aziz Nik Mat yang dilekatkan pada di dinding bangunan satu lantai itu.

Umat Islam di China khususnya di wilayah Guangzhou dan Shenzhen mudah dikenali dari pakaiannya. Sebagian besar menggunakan identitas Muslimnya dengan kopiah putih (untuk lelaki), sementara perempuan berjilbab atau minimum mengenakan kerundung ringkas pada kepala masing-masing.

Lelaki dan perempuan Muslim boleh dilihat sepanjang jalan utama di kedua kota ini. Mereka  menjual buah-buahan seperti limau dan sejenis manisan asal  Xinjiang, serta roti nan yang lezat. Untuk kemudahan mereka mendapatkan makanan halal, kedai-kadai  menjual daging lembu, ayam dan kambing juga banyak terdapat di sini.

Selama empat hari di Guangzhou dan Zhenzhen sempat menziarahi beberapa permukiman minoritas Muslim, antaranya kompleks masjid Saad Abi Waqass di Guangzhou, yang juga menempatkan makam yang dikatakan makam sahabat Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  , Saad Abi Waqass. 

Sejarah penyebaran

Menurut sejarah, penyebaran agama  Islam ke China adalah semasa Dinasti Tang dan Dinasti Song (pertengahan abad ke-7- 1279) oleh para pedagang Muslim Arab dan Parsi dengan menempuh Jalan Sutra. Hasil dari diplomasi dan aktivitas keagamaan di rantau itu maka  munculnya komunitas Hui di China (1271-1368) dan komunitas Hui ini sangat berpengaruh di China sehingga lepas beberapa dinasti, sehingga pada zaman pemerintahan Yuanzang yang berhasil menumbanghkan Dianasti Yuan, komunitas Hui mengalami mimpi buruk,  yakni dipaksa mengggantikan nama Arab-Islam dengan nama-nama China. Namun mereka tetap menyesuaikan dengan perkataan Islam seperti Abu diubah kepada Pu,  Shamsuddin, Alaudin  diubah kepada  Ding, Muhamad diubah kepada Ma dan sebagainya.

Muslim di China menyakini bahwa penyebaran Islam adalah hasil dari dakwah  salah seorang saudara Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  dari jalur ibu, yaitu Saad Abi Waqass. Ibunda Rasul, Aminah binti Wahhab, berasal dari suku yang sama dengan Saad, yaitu dari Bani Zuhrah. Diyakini, makamnya berada di Guangzhou (Kanton) yang hingga kini sangat dihormati. Saat penulis  mengunjungi permakaman itu, beberapa lelaki dan seorang perempuan sedang membaca al-Quran.

Sumber China abad ke -17 juga mengaitkan  kedatangan empat utusan Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  di China pada abad ke-7 sebagai awal mula masuknya Islam ke China. Empat utusan Nabi itu tiba di China untuk berdakwah semasa pemerintahan Wude dari Dianasti Tang. Utusan pertama berdakwah di Guangzhou sementara utusan kedua berdakwah di Yangzhou,  utusan ketiga dan keempat berdakwah di Quanzhou.

Makam-makam  mereka masih sangat dihormati oleh Muslim China, namun karena kurangnya  bukti-bukti, baik sarjana Muslim maupun sarjana China, maka diklaim itu menurut sebagian pihak dianggap sebagai legenda belaka.  Namun buku “A Brief Study of the Introduction of Islam to China” karya Chen Yuen, Islam pertama kali datang ke China sekitar tahun 30 H atau 651 M. Disebutkan, Islam masuk ke China melalui utusan yang dikirim oleh Khalifah Usman bin Affan (23-35 H / 644-656 M). Menurut catatan Lui Tschih, penulis Muslim China pada abad ke-18 dalam karyanya
“Chee Chea Sheehuzoo” (Perihal Kehidupan Nabi), Islam dibawa ke China oleh rombongan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas.

Bagaimana pun, tetap sulit menemukan dengan tepat dan konklusif tentang titik awal masuknya Islam ke China.

Selain ke kompleks Masjid dan makam Saad Abi Waqass, rombongan yang diketuai Sekretaris Penerangan PAS Kelantan, merangkap Pengarah Urusetia Penerangan Kerajaan Negeri (UPKN), Ustaz Haji Abdul Rahman Yunus singgah di Kompleks Masjid Menara Api (Masjid Huai Sheng) di pinggir kota Guangzhou. 

Masjid yang bina pada abad ke-15,  yaitu di zaman Dianasti Tang ini masih tampak elok dan tetap kekal seperti kondisi asalnya dengan menara tanpa disapu cat. Arsitektur bangunan keseluruhannya berasaskan arsitek tradisional China seperti pagoda.

Ikut sama rombongan ziarah umat Islam China adalah  Haji Muhammad Azmi Nor dan  Haji Rosidi Semail, Pegawai Penerangan Puan Nor Hashimah  Deraman, Chia Chuan Lai dan sebagian pejabat UPKN.

Foto:
         Masjid Menara Api, Guangzhou

Kisah pemimpin terdesak


Oleh: Rossem

Muammar Gaddafi di penghujung hidupnya,  sewaktu  diberkas saat melarikan diri di perbatasan Libya-Niger. Kepada  penentangnya  yang terdiri anak-anak muda,   dengan suara tersekat-sekat, beliau  merayu “ Wahai anak-anakku berhentilah  memukulku, beritahu padaku, berapa wang kamu  mahu. Sebut saja jumlahnya  akan ku berikan, kemudian  biarkan aku melepasi perbatasan  dengan selamat tanpa gangguan.”.

Gaddafi  menduga anak-anak muda itu akan menerima tawaran, sepertimana rakyat Libya sebelum ini menerima wang yang ditaburkan  kepada mereka sepanjang pemerintahnya kurang lebih 40 tahun. Namun pada hari itu berlaku sebaliknya.

Rakyat Libya, khususnya  anak-anak muda  menolak dengan keras tawaran wang, walhal kalau mereka  mahu, harga yang akan dibayar Gaddafi untuk menebus nyawanya dan menyambung kembali tali hayat pepemerintahannya adalah sangat  tinggi, sebuat saja, 2 juta Dollar, 10 juta Dollar atau 100 juta Dollar,  bahkan lebih dari itu, pasti ditunaikan.

Saat menawarkan itu, Gaddafi menjangka, rakyat Libya khususnya anak-anak muda yang menangkap beliau  masih berfikiran seperti sebelumnya, akan menerima ganjaran yang ditawarkan. Kerana kaedah mengumpan wang  sudah menjadi budaya negara dan sinonim dengan rakyat Libya,  sejak mengambilalih pemerintahan dari Raja Sanusi.

Rupanya  pada hari itu, disaat kekuasaannya diasak ke dinding, tika nyawanya diambang maut, Gaddafi baru tersedar dari mimpi yang panjang, bahawa wang sudah tidak berharga lagi. Wang tidak boleh menolong mempertahankan kekuasaan seseorang pemimpin, bahkan wang tak mampu lagi menyelamatkan nyawanya sendiri.

Hari itu, di  tanah gersang berpasir di selatan Libya, Muammar Gaddafi menemui ajal di tangan anak-anak muda yang memburunya sekian lama.

Namun, atas nama persaudaraan Islam, kita bersimpati dengan apa yang terjadi, tapi  realiti dan hakikat terbukti, bahawa  wang tidak boleh mempertahankan kekuasaan seseorang.

Hari ini di Malaysia, seorang pemimpin negara membeli hati rakyat dengan wang ringgit. Bermula tiga bulan lalu sehingga  sekarang masih belum selesai pembahagiannya kepada yang layak menerima.  

Pemberian  RM100, RM200,  RM500 dan  pelbagai lagi tawaran yang bernatijahkan   wang.  Tawaran itu meliputi  seluruh lapisan masyarakat, seperti murid sekolah, isi rumah  berpendapatan ke bawah RM3 sebulan,  kakitangan kerajaan, pesara, golongan  seniman dan lain-lain.

Kenapa sebelum ini tidak diagihkan pemberian seperti itu?.  Tentu ada sebabnya. Seperti juga Muammar Gaddafi tidak akan menawarkan wang berbilion dollar kepada anak-anak muda yang memburu dan mahu membunuhnya  sekiranya  beliau merasakan nyawa dan kekuasaannya masih selamat. Sebaliknya beliau melakukan demikian setelah menyedari kekuasaannya dalam kritikal. 

Apakah Presiden UMNO juga merasakan  kekuasaan UMNO/BN kini dalam kritikal?





Monday, February 20, 2012

Anekdot politik RM500 (III)

Pemberian RM500 oleh kerajaan kepada mereka yang berpendapatan kurang RM3,000 sebulan mengembirakan rakyat, rata riti orang bercakap tentang wang bantuan itu, di kedai kopi, pasar, dalam teksi dan di mana-mana saja, cerita tentang keprihatin kerajaan Najib terhadap orang miskin mendapat pujian ramai.

Diantara puluhan ribu bakal penerima, Pak Long antara orang yang tampak paling gembira sekali. Senyum simpul sentiasa terukir di bibirnya seperti potret Mona Liza karya Leonardo De Vinci, lebih-lebih lagi setelah Tok Penghulu Dacing datang ke rumah membawa surat dan boucer menyatakan permohonannya telah diluluskan.

“Pak Long, ini boucernya, esok pagi pergi ambil wang RM500” beritahu Penghulu.

“Terima kasih” balas Pak Long.

Esok paginya, selepas mandi dan solat Suboh Pak Long bergegas ke bandar dengan motosikalnya. Sepertinya tak sabar untuk mengenggam wang RM500 bantuan kerajaan pusat untuk orang miskin yang julung-julung kali diberikan sepanjang usia 60 tahun.

Rumahnya dengan tempat mengambil wang, iaitu di sebuah sekolah menengah kurang lebih 20 kilometer, namun pagi itu terasa dekat, sepertimana dekatnya bayangan wang kertas RM500 bakal diterimanya.

“10 minit lagi sampailah….” menolog Pak Long setelah perjalananya mula memasuki bandar. Selepas melepasi sebuah selikoh, nampak satu sekatan jalan raya oleh polis. Pak Long diarahkan berhenti. Ia kehairanan, “apa salahku”. Bisik Pak Long sambil merapatkan motosikal ke pinggir jalan.

“Pakcik, tak pakai topi kaledar” Kata polis.

Secepat kilat Pak Long menjamah kepalanya dan memang benar tak pakai topi kaledar. Ia minta maaf berkali-kali kepada anggota polis dengan memberi alasan terlupa memakainya kerana mahu cepat. “Ini Datuk Najib mahu bagi wang” beritahunya.

Anggota polis senyum mendengar alasan itu, dan meminta pula lesen memandu, setelah diberikan dan diamati, rupanya lesan mati sebulan lepas.

Polis mengeluarkan saman dengan dua kesalahan; tak pakai topi kaledar dan lesen memandu mati. Tiap-tiap satu kesalahan maksimum RM300. Dua kesalahan RM600.

Hampir pengsan Pak Long pagi itu. Mengejar RM500 pemberian dari kerajaan, sebaliknya mengalami kerugian RM600 kerana dikompaun juga oleh kerajaan.

Saturday, February 18, 2012

Anekdot Politik RM500

Anekdot (I)

Suatu pagi di kedai kopi. Pat Mat sambil menghirup kopi tiba-tiba marah-marah. Katanya semalam terima bil elektrik, terkejut kerana bilnya mencerceh sehingga sekali ganda dari sebelumnya iaitu RM 198.00.

Marah Pak Mat kepada kerajaan khususnya Tenaga Nasional bagaikan gajah naik minyak. Kesihanlah kepada orang kampung yang hidup susah sepertinya. Keluh Pak mat, sedih!

Kemarahan Pak Mat bertambah bila melihat kawan-kawan yang makan semeja dengannya ketawa terbahak-bahak melihatnya naik angin. Pak Mat sebenarnya tak sangka kaum kerabat dalam kedai kopi itu ketawa, sepatutnya tunjukkan simpati dan turut sependapat dengannya tentang kenaikan elektrik yang tak sepatutnya berlaku.

Ditengah-tengah kemarahan Pak Mat yang meluap-luap, tiba-tiba Pak Ya yang juga sedang minum semeja dengannya mengatakan “ Najib dah bagi RM500, kenapa bersungut lagi. Bukankah duit itu diberikan untuk tujuan membayar bil elektrik?”.

Pak Mat langsung diam. Ia berfikir, semalam baru menerima RM500, hari ini sebahagianya sudah mahu diambil balik. Memang pemimpin kita kaki auta.



Anekdot (II)

Siapa tak kenal Pak Kob, lelaki berusia separuh abad yang tinggal di hujung desa dengan mengerjakan sawah secara pawoh.

Kehidupan sehariannya sangat daif dan miskin. Untuk bergerak ke sana ke mari Pak Kob menggunakan basikal tua. Sesekali terlintas juga untuk membeli motosikal kapcai seperti tetangganya bagi memudahkannya terutama ke masjid tapi tak mampu. Anak-anaknya yang seramai empat orang tak dapat membantu kerana mereka juga tergolong orang susah, kaih pagi makan pagi.

Walaupun dihimpit keperitan hidup berdekad-dekad lamanya, tapi Pak Kob tetap setia bersama UMNO. Hanya parti itu menjadi pilihannya sejak dari muda teng-teng sampai tua bangka. Sejak belum menikah dengan Mak Bidah sampai menikah dan dikurniakan empat anak dan tujuh cucu, Pak Kob tak pernah mengundi parti lain selain Kapal Layar dan Dacing.

Hanya beberapa bulan lalu, entah bagaimana, suatu hari Pak Kob didatangi seorang penghulu PAS dan menawarkan Skim Al It’aam kepadanya. Mulanya Pak Kob marah-marah kepada penghulu itu dan bertanya balik “Skim Al It’aam tu binatang apa?”

Setelah sang penghulu menceritakan, skim itu ialah pemberian beras percuma 10 kilo setiap bulan sumbangan Kerajaan Negeri Kelantan kepada orang miskin, mendengar itu, maka hati Pak Kob terus menjadi cair. Hilang lenyap keegoan yang berpluh-puluh tahun berkarat biru dalam hati nuraninya, lantas terus mendaftar nama dengan mengisi borang sebagai penerima sumbangan beras setiap bulan.

Walaupun Pak Kob diberi sumbangan 10 kilo beras setiap bulan, Tok Penghulu PAS tidak pula memaksanya mengisi borang masuk PAS. “Pak Kob berhak untuk memilih parti politik mana yang Pak Kob suka sesuai dengan praktik demokrasi di negara ini”. Kata Penghulu.

Sebaliknya Pak Kob telah membuat keputusan sendiri mahu menjadi ahli PAS. Bagi Pak Kob, PAS adalah wadah perjuangan sebenar untuk Islam dan bangsa Melayu.

Pada awalnya memang terasa berat untuk meninggal UMNO yang sudah menjadi darah daging. Tapi olehkerana, barangkali Allah SWT sudah memberinya petunjuk, maka perasaan sayangkan UMNO itu hilang seperti angin yang membawa bau busuk, beredar angin, bau busuk pun hilang.

Sebulan selepas Pak Kob bersama PAS, ujian pun tiba. Ia mendengar khabar dari tetanggannya Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib akan memberi RM500 kepada setiap rakyat yang berpendapatan ke bawah RM3,000 sebulan. Pak Kok berhak mendapat pemberian itu.

Seminggu kemudian Penghulu UMNO datang ke rumah Pak Kob menawarkan bantuan. Ia menolong mengisi borang permohonan, kerana Pak Kob tak pandai menulis dengan baik. “ Saya akan uruskan permohonan ini dan Pak Kok hanya tunggu wangnya saja” kata Tok Penghulu UMNO.

“Tapi bersyarat. Selepas menerima wang nanti, Pak Kok mesti masuk UMNO balik…” Kata Tok Penghulu UMNO. Pak Kok tersenyum mendengar kata-kata yang diucapkan Tok Penghulu Dacing yang dikenalinya dulu sebagai orang sombong, sekarang baru nak berbaik-baik.

Walaupun wang RM500 sudah diterima Pak Kok, namun menyertai semula UMNO tidak sekali-kali. Pak Kok sudah istiqamah dengan perjuangan PAS. Lagi pun wang RM500 yang dibangga -banggakan pemimpin UMNO itu bukan kepunyaan parti itu, sebaliknya wang rakyat. Setiap warganegara Malaysia yang miskin tanpa mengira parti politik berhak menerimanya.

Pak Kok juga terasa konsep pemberian itu seperti ada udang disebalik mee, hanya untuk memancing pengundi agar memangkah Dacing. Kalau mereka betul-betul ikhlas mahu membantu orang miskin, kenapa tunggu sekarang, sepatutnya sudah lama memberikannya kepada rakyat, sekurang-kurangnya setiap tahun. Bukankah UMNO sudah memerintah Malaysia hampir setengah abad.

Seterusnya Pak Kok beragumentasi “ Kalau betul-betul kerajaan Najib mahu membantu rakyat, tambah subsidi kepada pengusaha petrol, harga petrol pun turun. Kemudian paksa pembuat produk dan peniaga turunkan harga barang sebab harga petrol sudah rendah. Bila hal ini berlaku, semua lapisan rakyat akan merasai nikmat keselesaan hidup.

Pak Kob semakin “cerdik” setelah menyertai PAS.

Saturday, February 11, 2012

Promosi Kelantan Rentas Sempadan


SILATURAHIM itu bisa membentuk jaringan dan koneksi,” kata pelakon yang memegang peran Pak Kyai dalam film “Ketika Cinta Bertasbih”, Dedy Mizwar yang kami tonton dalam bus pariwisata sepanjang perjalanan pulang ke Malaysia dari Bandung - Jakarta tanggal 4-7 Februari 2012.

Kata-kata itu, meskipun hanya sebuah ungkapan dialog dari film, namun tersirat makna yang mendalam dan amat bertetapan sekali dengan misi perjalanan kami yang digelar “Ziarah Dakwah” oleh beberapa NGO, institusi pengajian tinggi swasta dari Kelantan dan wakil Kerajaan Negeri ke beberapa kecamatan (daerah) sekitar Jawa Tengah, Indonesia.

Merealisasikan cita-cita murni, ikhlas dan hanya mengharapkan ridha Allah Shubhanahu Wa Ta’ala (سبحانه و تعالى‎), maka rombongan sebanyak 36 orang, dengan kerjasama Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta yang dipimpin Rektornya, Prof. Dr. Ir. Agus Priyono, menempa sejarah baru mempertautkan kembali ikatan ukhuwah Islamiyah sesama umat seiman dan seagama, bahkan serumpun bangsa Malaysia-Indonesia dengan melakukan kunjungan silaturahim ke beberapa pondok pesantren di sekitar Jawa Tengah.

Oleh karenawaktu sangat terbatas, hanya sempat mengunjungi tiga pesantren, iaitu Al-Munawar, Al -Falah di Desa Moga, Pemalang, dan Pesantren Al-Hasaniyyah di Desa Brebes, Tegal, yang jarak antara keduanya sekitar empat jam perjalanan mobil. Juga sempat dilawati sebuah panti asuhan, Yayasan Dewi Masyitoh, Rumah Sakit Muhammadiyyah (RSM) Moga.

Selain aktivitas berbentuk sosial seperti kunjungan ke rumah warga setempat, merawat pasien, menyantuni anak-anak dengan acara yang bersesuaian dengan mereka yang dilakukan rombongan NGO Haluan Kelantan dan KTD, namun paling utama ialah mempromosikan Negeri Kelantan yang dipimpin Tok Guru (kyai) Haji Nik Abdul Aziz Nik Mat
kepada umat Islam Indonesia khususnya warga desa setempat dan santri-santri (pelajar) pesantren.

Setiap tempat diziarahi, pendiri pesantren menyediakan pentas khusus dan mengumpulkan banyak warga desa dan santri datang mendengar ucapan yang disampaikan Timbalan Exco Penerangan, Pembangunan Matlumat, Sains dan Teknologi merangkap Timbalan Ketua Penerangan PAS Kelantan, YB Ustaz Ahmad Baihaki Atiqullah yang mewakili YB Dr Mohamed Fadzli Dato’ Hassan yang tak dapat hadir karena ada acara di Kelantan dan pentadbiran Membangun Bersama Islam yang praktikkan sejak 1990.

Ada juga acaranya berbentuk forum dan dialog dengan para guru dan santri seperti di Pondok Pesantren Al-Hassaniyyah, Desa Brebes, Tegal. Pondok yang dipimpin Kayi Haji Nuruddin Shamsudin, antara yang paling banyak yaitu kurang lebih 600 putra/putri.

Setiap kali YB Ahmad Baihaki diminta berucap, yang ditekankan dalam setiap ucapannya yakni; menjalin hubungan silaturahim sesama umat seagama dan seiman sangat dituntut oleh Islam dan salah satu perbuatan yang sangat disukai Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Maka apa yang dilakukan ini, dengan berkunjung ke sini justeru amat menepati sekali dengan kehendak Rasusullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), dan diharapkan dengan keikhlasan kita, dengan naiwatu hanya kerana Allah Subhanahu Wa ta’ala (سبحانه و تعالى‎), tanpa ada maksud lain yang tersirat, semoga jalur yang dilalui ini diberkati Allah dan hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala (سبحانه و تعالى‎) jua yang membalasnya.

Respons dari kiai-kiia pesantren juga aktivitas sosial Islam setempat memuji Kelantan karena merintis jalan menjalin hubungan seperti ini, bahkan disebut, ini petanda baik dalam hubungan Malaysia (Kelantan)- Indonesia. “Jangan peduli jika ada oarng-orang yang iri lantas mengadu domba agar persaudaran sesama umat pecah, demikian ujarnya.

Bahkan kami terharu dengan ucapan Prof. Dr Ir. Agus yang terus menerus memuji kepimpinan Tok Guru Haji Nik Abdul Aziz Nik Mat setiap kali berucap. Beliau sebelum ini banyak mengetahui tentang Kelantan dan kepinpinan Tok Guru karena pernah belajar di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) selama 4 tahun.

Selama di sana, sempat juga bersilaturahim dengan Pemimpin Umum Muhammadiyah cabang Pemalang, Dr Mahruf Asip di rumahnya di Desa Moga. Beliau antara pendiri dan pemimpin Rumah Sakit Muhammadiyyah Moga.

Selain itu, pada kesempatan yang sama dapat bertemu dengan Anggota DPRD (Wakil Rakyat) Kabupaten Pemalang dari PKS, Ikmaludin Aziz.
Ikut sama rombongan selain YB Ahmad Baihaki; Penolong Pengarah Urusetia Penerangan (Penerbitan) H. Rosidi Semail dan Penghulu Haji Kamal Khatib.

Saat kelompok NGO dari Haluan Kelantan sebanyak 13 orang dan institut Pengajian Tinggi Kelantan Teknologi Darulnaim (KTD) sebanyak 4 pensyarah dan 16 pelajar. Rombongan di kepalai seorang aktivis Islam Dr Arif Abdul Rashid dari Haluan dengan dibantu Ustaz Tarmizi Said, Mudir Ma’had Muhammadi Pasir Pekan.*/Rossem, Malaysia

Foto: YB Ustaz Ahmad Baihaki Atiqullah bersama Kiai Haji Saiful Hadi pemimpin pondok pesantren Al-Munawar (no 3 dari kanan) dan Anggota DPRD, Pemalang dari PKS, Ikmaludin Aziz (Kiri sekali).

Saturday, January 28, 2012

DAP pilihan orang Melayu?

Oleh: Rossem
Dalam sebulan, di awal tahun 2012, ketika pentas politik sedang membahang, tiga orang tokoh dari kalangan orang Melayu menyertai DAP. Seorang bekas ADUN UMNO Pulau Manis, pekan, pahang, Mohd Ariff Sabri Abdul Aziz, pemimpin veteran UMNO Negeri Sembilan Aspan Alias dan terbaru mantan Presiden Kesatuan Wartawan Kebangsaan (NUJ) Hatta Wahari. Tak diketahui sama ada Hatta sebelum ini seorang ahli UMNO atau tidak, tapi beliau sebelum dipecat adalah seorang wartawan kanan, sekaligus kakitangan sebuah penerbitan akhbar penyambung lidah Melayu yang dipunyai UMNO.

Seorang lagi ialah Zairil Khir Johari, putera Tan Sri Khir Johari mantan Menteri kabinet Malaysia zaman Tunku Abdul Rahman dan Tun Abdul Razak . Sebelum itu, tanggal 31 Mei 2009 Tengku Abdul Aziz Ibrahim menyertai DAP, kini Timbalan Pengerusi parti.

Bagi orang Melayu, bila orang Melayu menyertai DAP, pertama terdetik di hati nurani ialah segugus kehairan, sekaligus dilanda tandatanya, bagaimana seorang Melayu yang beragama Islam masuk DAP, kerana umum mengetahui walau parti tersebut bersifat multi kaum, namun pimpinannya diterajui orang Cina dan 90 persen pendokongnya adalah orang Cina dan India.

Inspirasi parti itu juga sejak dulu dilihat lebih condong kepada membela kepentingan kaum Cina, walaupun dasar parti menjunjung dan mempertahankan Perlembagaan Persekutuan 1957 yang secara terang-terangan mendaulatkan agama Islam sebagai agama Persekutuan dan pada masa yang sama melindungi hak agama-agama lain untuk diamalkan secara bebas.

Lebih menghairankan lagi, yang menyertai DAP kali ini ialah pemimpin dari kalangan Parti Nasionalis Melayu yakni UMNO. Apakah mereka sudah tak percaya lagi kepada UMNO dalam memperjuangkan kelangsungan Melayu. Atau sudah hilangkah semangat Melayu mereka?.

Atau kalau sudah tak yakin kepada UMNO, kenapa tidak menyertai saja PAS atau PKR. Kedua-dua parti itu dipimpin orang Melayu. Pertanyaan itu pasti ada dalam benak khususnya orang Melayu.

Mohd Ariff pernah menjadi ketua penerangan bahagian UMNO Pekan yang masih diketuai oleh Presiden UMNO Datuk Seri Najib Abdul Razak. Ia menulis gurindam dalam blognya:

Buai laju laju
Sampai pokok sena
Melayu tetap Melayu
Walau masuk parti Cina
Lesung dan antan lagi bertingkah
Suami isteri bertikam lidah
Pindah parti bukan tukar aqidah
Tetaplah Allah Tuhan disembah.


Beliau mengkritik cara UMNO/BN menyelesaikan masalah ekonomi rakyat. Pemimpinnya seperti Lord, duduk atas sofa dan hulur RM10 setiap rakyat yang sedang beratur hendakkan RM10. Rakyat terutama orang Melayu berebut-rebut untuk mendapatkannya. Yang di atas sofa senyum puas, yang menerima senyum malu-malu. Cara ini samalah seperti bantuan kemanusian kepada mangsa kebuluran di Somalia, cuma di Malaysia beri wang, sedang di Somalia beri bahan makanan.

Sang veteran UMNO, Aspan Alias menghadapi kepayahan dalam hidup memang mainannya walaupun berada di dalam UMNO yang mengaku sebagai parti untuk semua dan segala-galanya adalah UMNO. “Saya telah menjadi ahli parti ini selama empat dekad lamanya. Saya tidak pernah merungut dan menyesal berada di dalam UMNO sebegitu lama. Setidak-tidaknya saya mahir untuk menilai parti itu dalam empat dekad berada bersamanya”.

Namun ada sedikit kekecewaan terhadap pemimpin negara (UMNO/BN) seperti diungkap dalam blognya: Sisa-sisa dari usia saya ini untuk membantu perjuangan menyelamatkan harta benda rakyat dari dirompak dan dipergunakan oleh mereka yang memerintah negara kita ini.

Kata-kata itu sebenarnya membuka mata ramai orang yang melihat di sana terdapat banyak pintu-pintu penyelewengan terbuka untuk orang-orang tertentu memasukinya dengan mudah. Walaupun sebahagiannya terbongkar, contohnya kes Lembu beli kondominium( NFC) namun pasti banyak lagi terlepas pandang dan hilang jejak.

Hatta Wahari selepas mengambilalih kepimpinan NUJ, pertama-tama menyelar majikannya kerana menjadikan akhbar tempatnya bekerja sebagai alat propaganda kerajaan dan memainkan isu-isu perkauman serta cuba mencetuskan pertelingkahan kaum di negara ini, sehingga pengedaran akhbar itu jatuh menjunam.

Apa yang beliau mahu ialah, akhbar seharusnya kembali kepada fungsi dan matlamat sebenar media, iaitu untuk menyampaikan maklumat kepada orang ramai dan bukan sebagai alat propaganda kepada kerajaan, mana-mana parti politik dan individu-individu tertentu kerana kepentingan peribadi.

Mohd Ariff Sabri Abdul Aziz, Aspan Alias dan Hatta Wahari hanya tiga orang daripada kurang lebih 12 juta orang Melayu di Malaysia. Justeru, tak menjadi kudis gatal pun dengan penghijrahan mereka dalam DAP; demikian kata Khairy Jamaluddin cuba memperlekeh, bahkan Ketua Pemuda UMNO itu mencabar, beri stastik sebenar orang Melayu dalam DAP.

Jawapan kita; Arif, Aspan dan Hatta, memang tiga sosok, namun mereka mewakili sebagaian besar orang Melayu yang berfikiran sama dengannya dalam menilai sesebuah parti politik yang mana harus didokong khususnya dalam konteks Malaysia hari ini.

Kelompok ini terdiri dari mereka yang mahu lepas bebas dari rantai politik perkauman yang diamalkan sejak merdeka oleh UMNO/BN. Kelompok ini menolak
parti politik yang berasaskan kaum atau tebal dengan perkauman. Politik perkauman sudah tak televen lagi dengan semangat zaman. Demikian menurut kelompok ini.

Mereka memilih DAP tidak memilih PAS atau PKR kerana DAP juga adalah parti komponen dalam Pakatan Rakyat.