Wednesday, August 10, 2011

Dari Pentas Hiburan menuju Pentas Dakwah


Oleh:Rossem
Di Malaysia semua orang pasti kenal nama Sham Kamikaze, seorang pemain gitar terhandal. Ia adalah seorang pemain gitar utama kelompok musik rock Kamikaze yang pernah popular tahun 1990-an. Selain itu, ia juga seorang dosen musik di Akademi Seni nasional (ASWARA). Pria bernama asli Shamril Mohd Salleh ini pernah mengajar di program reality Show Akedemi Fantasia (TV3) ini sudah aktif di dunia musik sejak usia 12 tahun dan lahir dari keluarga pemusik.

Pria berusia 36 tahun yang akrab dengan panggilan Sham ini, kini berubah secara total mulai dari percakapannya bahkan penampilan fisiknya sehari-hari. Dari seorang pemain pemusik rock beralih menjadi pendakwah. Kini Sham aktif menyampaikan motivasi dakwah kepada masyarakat, terutama kisah perjalanan hidupnya sesuadah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Tanggal 30 Juli lalu, Sham datang ke Kelantan untuk memenuhi undangan dalam program acara “Bicara Selebriti - Indahnya Hidayah-Mu” anjuran Kerajaan Kelantan di Balai Islam Kota Bharu. Sekitar dua ribu penonton hadir dalam acara tersebut, yang kebanyakan generasi muda.

Sham terkejut dengan sambutan ini. Hal yang sama berlaku saat ia menyampaikan kisah pengalamannya di sebuah masjid di Perlis sebelumnya. Lebih empat ribu anak muda datang hanya untuk mendengarnya.

Acaranya seolah mengalahkan ustaz, padahal ia hanya seorang musisi yang baru berhijrah dari pentas hiburan yang melalaikan ke pentas dakwah.

Bila ditanya, bagaimana penghijrahan ini bisa terjadi? Sham menjawab ringkas; bahwa ini berkat doa ibunya yang tak henti mendoakan agar ia berubah suatu hari nanti.
“Dulu saya shalat setahun sekali. Doanya pun minta murah rezeki dan panjang umur. Berdoa mau untung di dunia saja. Itu dulu, bagaimanapun kini setelah berubah, saya bersyukur dapat melihat dan merasakan sedikit manisnya iman,” ungkapnya.

Banyak teman Sham yang senang dengan perobahan ini, tapi tidak sedikit yang sebaliknya, bahkan mereka mengatakan perubahan hidup Sham itu hanya sekejap saja, hari ini pakai kopiah, setelah itu campakkan kopiah dan kembali ke pentas rock.
Selanjutnya Sham mengatakan bahwa, hiburan seperti bermain gitar bisa dijadikan medium dakwah.

“Kita bermain musik dalam konteks untuk mendekatkan diri dengan Islam. Sebagai contoh, saya pernah diundang ke sebuah masjid di Kangar, Perlis untuk berbagi pengalaman tentang hijrah saya. Ada empat ribu orang hadir terutama generasi muda. Jadi apa yang kita lakukan dapat mendorong orang muda terutama yang tak pernah menginjakkan kaki ke masjid, kemudian ke masjid. Itu merupakan satu kesuksesan,” ujarnya.

Sham mengutip tokoh ilmuwan Islam Al-Farabi yang juga bermain gambus, bahkan dengan alunan musik yang dimainkan itu mampu meneteskan air mata bagi pendengarnya.

“Tatkala Al-Farabi memetik gambusnya, banyak orang meneteskan air mata. Jika Allah mengizinkan, saya juga ingin sepertinya,” katanya lagi.

Sebelum ini, Sham membuat kejutan saat mengeluarkan pernyataan melalui situs Facebook miliknya menjelaskan ingin berhenti dari dunia hiburan jika dikurniakan rezeki dalam bidang lain.

“Saya sudah bicara dengan beberapa ulama terkait dengan pekerjaan dalam bidang ini (musik), kata mereka selagi tidak melanggar hukum syar’i, tak mengapa,” katanya.
Namun perobahan benar-benar terjadi ketika ia datang ke Tanah Suci.

“Hati saya mulai terbuka saat Allah telah mempertemukan saya dengan Imam Satu Masjidil Haram, Syeikh Abdulrahman As Sudais. Saya sengaja keliling kawasan masjidil Haram untuk menemui beliau dan alhamdulillah akhirnya bisa bertemu.

Banyak orang bilang susah bagi orang biasa untuk menemui imam besar itu. Sejak itulah saya percaya ada hikmah tersembunyi yang Allah akan berikan kepada saya. Syukur, akhirnya saya mendapat hidayah dan petunjuk dari-Nya. Sekurang-kurangnya saya tidak lagi hanyut dengan hal yang melalaikan,” tuturnya.

“Kelantan menjadi negeri tempat saya meluahkan isi hati nurani paling dalam tentang perjalanan hidup saya sesudah mendapat kemanisan iman, kerana bagi saya, negeri ini sangat cocok dengan saya,” tuturnya.*/Nur Aminah Rossem, Malaysia

Friday, August 5, 2011

Suasana Padang Arafat di Kota Bharu


Oleh: Rossem
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Setiap kali ketibaan Ramadhan al Mubarak. Khemah besar berwarna putih lengkap dengan alat penghawa dingin dibangunkan. Ditokok tambah dengan apa-apa yang berkurang pada sebelumnya, semua itu demi keselesaan para jamaah Tarawih yang semakin ramai, sehingga khemah sebesar separuh padang sepak bola itu terasa sempit dengan jamaah mulsimin dan muslimat yang datang, sehingga sehabagianya terpaksa solat di luar khemah.

“Terasa seperti berada di Padang Arafah” kata salah seorang jamaah yang pertama kali mendirikan solat Tarawih di situ. Memang benar, situsi dan kondisinya saling tak tumpang seperti di Padang Arafah saat mengerjakan haji.

Barangkali inilah yang mahu tunjukkan oleh sang pencetus idea, Menteri Besar Kelantan, Tuan Guru Nik Abdul Aziz Nik Mat saat mensyorkan sebuah khemah besar didirikan di lapangan di tengah Kota Bharu untuk tujuan bersolat sunat Tarawih, agar setiap umat Islam yang mendatanginya merasakan diri mereka seperti berada di Padang Arafah.

Imam solatnya tahun ini didatangkan khas dari Mesir. Dua orang qari dan hafizan terkenal dari negara itu mengimami solat Isyak dan solat sunat Tarawih setiap malam selama sebulan Ramadhan. Kemerduan suaranya sehingga makmum tidak terasa kepenatan harus berdiri lama untuk menghabiskan satu lembaran al-Quran yang dibaca sang imam untuk setiap rakaat selama lapan rakaat. Malah mengamati bacaannya dengan penuh khusyuk boleh meneteskan air mata.

Kenapa solat di lapangan, di bawah khemah? Apakah di Kota Bharu tidak ada masjid? Barangkali ada yang bertanya demikian.

Ya, masjid dan surau banyak sekali di kota ini. Antara masjid yang besar ialah Masjid Muhammadi. Merupakan masjid negeri, jarak lokasinya cuma satu kilometer dari khemah Tarawih yang terletak di Dataran Stadium Sultan Muhamaad Ke-IV.

Setiap masjid dan surau, termasuk Masjid Muhammadi rutin Ramadhannya mengadakan solat sunat Tarawih sejak dulu. Namun oleh pemerintah negeri dibangunkan sebuah khemah besar berfungsi sebagai masjid untuk tempat ibadat qiammulail semata-mata untuk memberikan sedikit kelainan dan cinta rasa baru kepada para jamaah. Antaranya menghadirkan suasana “Padang Arafah” ke dalam diri setiap muslimin dan muslimat. Kedua, untuk kemudahan para musafir yang tidak berkesempatan untuk ke masjid kerana urusan mahu disegerakan.

Sebelum berpindah ke Dataran Stadium, sebuah khemah yang sama didirikan di terminal bas di tengah kota. Di situ bermulanya solat terawih bawah khemah di Kelantan. Fungsinya untuk sang musafir yang melewati kawasan itu, memberi kemudahan kepada mereka untuk singgah sebentar mengerjakan solat tarawih lapan rakaat atau sebelas rakaat termasuk witir sebelum berangkat untuk urusan masing-masing.

Saat itu imamnya seorang hafiz yang didatangkan dari Republik Rakyat China. Dibiayai segala oleh pemerintah Kelantan. Ketika itu ada orang bertanya “Apakah di Negeri Serambi Mekah ini sudah kemarau imam, sehingga terpaksa import imam dari China?” Menteri Besar, Tuan Guru Nik Aziz Nik Mat menjawab “ Saya sebenarnya mahu merubah persepsi kamu. Selama ini, dalam minda kamu hanya orang Melayu saja boleh jadi imam solat. Walhal orang Cina juga boleh jadi Imam. Mereka adalah bangsa yang lebih awal memeluk Islam dari kita. Dan ingatlah Islam itu untuk seluruh manusia tanpa dibatasi bangsa dan negara”.

Tuan Guru Nik Aziz melihat nun jauh ke depan, sedangkan waktu itu kita hanya melihat sejengkal di depan mata! Masyaallah.

Thursday, August 4, 2011

Himpunan Anak Kelantan di Perantauan



Oleh: Rossem
Sehari sebelum kedatangan Ramadhan yang ditunggu-tunggu (30 Julai 2011) saya berada di Kuala Lumpur menghadari program Himpunan Anak-Anak Kelantan Di perantauan yang berlangsung di Stadium MBPJ, Petaling Jaya, Selangor. Dalam situasi yang sangat silaturahim, tampak kecerian yang benar-benar pada wajah para perantau asal Kelantan bila dapat bertemu tokoh yang menjadi ikon mereka- Menteri Besar Kelantan, Tuan Guru Haji Nik Abdul Aziz Nik Mat, Wakil-Wakil Rakyat serta kepimpinan lain yang ikut berkampung selama sehari suntuk di stadium.

Kemuncak acara ialah ucapan perasmian oleh Tok Guru seusai solat Asar. Ramai menunggu untuk mendengar amanat ulama yang menjadi sanjuangn mereka. Tok Guru juga sangat bersemangat pada petang itu. Inti ucapan antaranya memperkatakan betapa buruknya wajah sekularisme dari sudut pandangan Islam. Selanjutnya memperingatkan kita bahawa setia saat berdepan dengan “pilihan raya” (pemilu). Bangun saja daripada tidur kita harus memilih yang mana baik yang mana buruk, dan setiap orang pasti mahu memilih yang terbaik. Demikian juga pilihan raya, kita memilh parti mana yang terbaik daripada sejumlah parti yang bertanding.

Program selama sehari itu lebih tertumpu kepada kerja-kerja mendaftar warga Kelantan yang bermukim di Kuala Lumpur dan Selangor yang akan balik mengundi di kampung masing- masing di Kelantan pada PRU Ke 13 nanti. Pendaftaran dibuka mengikut kawasan mengundi masing-masing, meliputi 14 kawasan semuanya.

Selain itu diadakan perlawanan persabahatan sepak bola pada sebelah pagi dan persembahan dikir barat pada petang dan malamnya oleh pedikir tersohor yang di bawa dari Kelantan- Jen Endoro dan pedikir asal Kelantan dari Kuala Lumpur-Halim Yazid. Tetamu juga, pada petangnya, dijamu dengan nasi gulai (sapi) kawah, sejenis masakan terkenal Kelantan.

Biapun terdapat perlawanan sepak bola dan hiburan dikir barat, setiap program oleh pemerintah Kelantan pasti tak lari dari Islami. Solat berjamaah tidak ketinggalan setiap waktu solat. Senator Dato, Dr Johari Mat diundang memberi taskirah yang sangat bernas seusai solat Maghrib berjamaah dilantai stadium yang dibentang tikar.

Senator dan Rektor Kolej Islam Antarabangsa Sultan Ismail Petra (KIAS) itu mengupas tentang syahadah umat Islam “Laila hiillallah muhamadul rasullullah” dengan pendekatan yang mudah difahami tapi menarik. “Laillah hailllallah…. Tiada Tuhan (ilah) yang disembah kecuali Allah. Tiada peraturan atau undang-undang yang patut ditaati kecuali undang-undang Allah. Tiada kuasa yang boleh memudaratkan tubuh badan kita kecuali Allah. Tiada siapa yang seharusnya kita takuti kecuali Allah. Sesiapa yang berpegang kepada akidah yang mantap sesungguhnya ia tidak mudah diperdayakan sesiapa baik dari kalangan manusia atau syaitan.

Tuesday, August 2, 2011

Kelantan tempat selebriti mencurah perasaan



Oleh; Rossem
Sehari sebelum menjelang Ramadhan al mubarak, di Balai Islam, Kota Bharu, Kelantan, seorang selebriti terkenal Malaysia, Wardina Safiyyah melihat pentas Balai Islam yang dihias indah...terasa luar biasa acara untuknya kali ini berbanding yang pernah diadakan sebelumnya.

“Saya melangkah ke pentas hampir longlai..wajah pucat lesu.. minda tidak terfokus, namun saya amat teharu dengan kehadiran khalayak malam itu. Dewan penuh sesak. Tanpa wanita seksi, tanpa hebahan media.... Semuanya berhimpun atas dasar Iman dan kecintaan pada Islam...”

“Khalayak hadir dengan semangat mahukan sebuah perubahan yang hakiki pada seni hiburan. Mereka cuba memaknai hiburan yang sebenar-benarnya. Kerana anak-anak muda ini sudah terlalu lama dilalaikan dengan hiburan penuh kemaksiatan yang hanya meracuni minda mereka”

“Anak- anak muda itu mahu tahu erti 'hiburan' dari alim ulama'. Apa opini ulama’ terhadap hiburan yang menjadi gegilaan kelompok ini. Kemudian pilihlah yang sesuai dengan diri dan cuba memahami perspektif mereka yang mahukan sedikit hiburan dalam kehidupan , hiburan yang sama sekali tidak menjurus kepada kemaksiatan, yang masih dibatasi etika Islam”.

“Hiburan yang berkiblatkan Barat boleh dibungkuskan dengan koran lama... Ianya tidak "trendy" lagi. Islam itu senantiasa trendy...tiada surutnya, boleh disesuaikan pada apa saja waktu, masa dan ketika”. Ujar sang selebriti yang cantik menawan.
“Rakyat Kelantan …. anda cukup bertuah! Saya merasakan keikhlasan terpancar keluar dari setiap sudut baik dari penganjur (Tahniah YB Ustaz Ahmad Baihaqi Atikullah), ahli panel dan moderator, baik dari penonton juga kesemua krew yang bertugas..ianya tidak boleh dijualbeli. Ya.. mungkin ada yang tercabar dan cuba meniru yang seakan sama. Namun tanpa niat yang ikhlas...ianya tidak mungkin dapat meninggalkan kesan yang serupa”.

“ Terkilan juga tidak dapat mempamerkan persembahan 'istimewa' bersama Amna. Kami mahu mengaji bersama... antara surah kegemaran kami iaitu Surah Buruj dan Insyiqaq...Ya, antara hiburan kami antaranya ialah mengaji bersama. Ya ketenangan yang saya dapat daripada al Quran tidak dapat dirungkai dengan kata-kata. Itulah Hiburan Islam yang tiada tandingannya!”

Sangat terharu membaca komentar dan persepsi Wardina Safiyyah tentang Kelantan mengenai program “Bicara Selebriti Hai”. Selain Wardina turut menjayakan program itu ialah mantan Mufti Perlis, Dr Mohd Asri Zainul Abidin (Dr Maza) dan bekas penyanyi rock terkenal Sham Kamikaze.

Wardina Safiyyah Fadlullah Wilmot, 32, artis sinetron, model dan pengacara (host) sudah lama mengenakan jilbab, adalah puteri kepada seorang penulis buku-buku Islam suatu masa dulu Fadlullah Wilmot, asal Australia, sementara ibunya Indonesia.
Lagi komentar tentang Kelantan dari seorang lagi panelis Bicara Selebriti Hai pada malam itu, Dr Mohd Asri Zainul Abidin “Ya, saya seorang rakyat biasa, yang kadang-kala terlibat mengulas isu-isu yang menjadi hak rakyat muslim merdeka untuk memperkatakannya. Cuma, saya juga mengulas banyak isu seni di sudut agama dan pemikiran serta menulis puisi dan lirik. Mungkin yang lebih ‘sikit’ pernah jadi Mufti Perlis. Ramai juga artis-artis glamour merupakan sahabat baik saya. Namun, agak ‘segan’ untuk duduk atas pentas atas nama selebriti. Apapun, saya kagum dengan kepimpinan Kerajaan Kelantan yang menampilkan kematangan mereka dalam mengadunkan isu-isu hiburan ini di negeri yang terkenal dengan banyak pusat pengajian agama."
Sementara pamelis Amim Idris pula berujaran “Di kala pelbagai pihak dari serata negara berlumba-lumba menyuap minda masyarakat dengan hiburan berkiblatkan Barat, Pemerintah Kelantan dengan berani mengadakan sebuah program hiburan alternatif kepada rakyat. Bukan soal untung kerana jualan tiket tetapi untung akhirat yang ditagih. Inilah hasil tarbiah Tok Guru Haji Nik Abdul Aziz Nik Mat, Menteri Besar Kelantan.
, “Inilah budaya rakyat Kelantan.” Kata Sham Kamikaze tersenyum kagum!"

Tuesday, July 26, 2011

Pak Samad - Tak mahu demokrasi yang kasar dan sombong


Oleh: Rossem
Beberapa waktu yang lalu, tokoh hebat itu pernah menulis dalam bukunya “Ilham Di Tepi Tasik” (2006); pada setiap dekad atau setiap era memang mempunyai suara tertentu daripada masyarakatnya. Dan dalam seni tentu suara itu lebih kuat datangnya daripada hati nurani seniman. Terkadang-kadang seniman terdorong menjadi begitu berani oleh keresahan batinnya.

Keadaan atau peristiwa-peristiwa penting diperiksanya dalam diam untuk beberapa lama sehingga dirinya tidak tertahan. Dan apakala ledakan batinya itu bermula ia terus saja menganggu. Niat seniman, pada dasarnya, amat jelas, malah amat jujur. Tapi seperti biasa, kejelasan memerlukan khalayak yang turut damai juga. Dan kejujuran pun, seperti selalu, memerlukan khalayak yang murni. Tidak ada khalayak yang serentak begitu. Makanya, seniman seperti mengundang musibah. Tapi sang seniman wajar tetap bersedia, tanpa kebenaran yang waras, maksud saya, seniman tidak akan berhak memakai label “seniman” nya itu.

Apa yang diungkapkan Sasterawan Negara suatu ketika dulu telah terjadi tanggal 9 Julai lalu. Mungkin saat menulis kata-kata itu, ia sendiri tidak menjangka akan berlaku begitu pantas. Namun, begitulah bila seorang memiliki kecerdasan yang tinggi membaca linggang lingguk alam akan cepat menangkap sesuatu yang akan lahir dari pergerakan alam seperti halnya seorang pakar gunung berapi mengetahui saat bila akan metetup.

Setiap dekad atau setiap era akan berlaku perubahan besar kepada masyarakat adalah kata-kata yang menimbulkan kekhuatiran terutama penguasa yang lama bertahkta. Hikmah dari kata-kata itu sudah diterjemahkan menjadi realiti yang tak boleh disanggah, ia berlaku di mana-mana. Natijah dari kata-kata itu kita melihat ramai penguasa yang rakus kuasa telah tumbang seperti Zine El Abidin Ben Ali (Tunisia), Abdullah Saleh (Yamen), Hosni Mubarak (Mesir) dan lain-lain.

Rakyat tidak akan selamanya hanya menahan jeritan batin di dalam rumah. Akan tiba saatnya akan menjengok ke luar jendela. Dan apa yang berlaku kepada perhimpunan Bersih 2.0 baru-baru ini, rakyat bukan sekadar mengintai lewat jendela, malah berani turun ke jalan raya beramai-ramai, meskipun mereka tahu, di sana mereka akan disambut dengan semburan air asid, gas pemedih mata, belantan, tangkapan dan mahkamah.

Dan salah seorang daripada puluhan ribu pemberani meredah sekatan polis, menahan pedihnya mata lantaran semburan gas pemedih mata dan air berasid ialah Sasterawan Negara Datuk A.Samad Said. Tokoh sasterawan yang meniti usia 70an itu masih tampak gagah berjalan bertongkatkan semangat membara, tanpa sepatu (tercicir), demi menyuarakan sesuatu yang dirasanya “tidak adil” dilakukan oleh pemerintah terkait dengan pengendalian pilihan raya oleh SPR yang dikatakan tidak telus.

Kenapa tokoh yang satu ini sanggup berbuat demikian, apakah kerana berjaya “diperalatkan” kelompok tetentu dari kaum oposisi demi agenda politik mereka sehingga sang sasterawan tersohor itu sanggup menyarung jesi kuning dan keluar ke lapangan? Barangkali ada yang beranggapan demikian. Tapi bagi sesiapa yang mengenali Pak Samad Said, pastinya tak akan berani menuduh demikian. Pak Samad punya prinsip seutuh gunung. Pak Samad tahu Bersih 2.0 adalah gerakan rakyat yang aman dan bukannya gerakan keganasan.

Seperti pernah diucapkan pada malam pelancaran Bersih 19 Jun 2011: “Murbawan Malaysia tidak senang dengan apa yang sedang berlaku di negara ini. Kita menghantar pesanan yang sangat waras. Demokrasi perlu murni dan terus dimurnikan.

Tokoh itu menyambung lagi: Kita ingin memperbaiki jentera demokrasi agar lebih berhati nurani. Kita tidak menginginkan demokrasi yang kasar dan sombong; kita merindukan demokrasi yang tulus dan betul.

Namun lain pula jawapan pemerintah: Kami khuatir kerana sejarah mencatatkan, dalam demokrasi, yang elit, jeneral, ahli korporat, bangsawan sentiasa akan tewas, jika mereka memilih melawan rakyat terutama di jalanan. Menyedari itulah maka kami seperti berada di persimpangan. Membiarkan kalah tanpa melawan atau melawan rakyat. Lalu kami pilih melawan rakyat!

Sunday, July 24, 2011

Umat Islam kekurangan media Islami.


Oleh: Rossem
Sekitar 80an dan 90an banyak media-media Islami dari Indonesia dipasarkan di Malaysia, antara paling popular Panji Masyarakat. Qiblat, Ummat. Sekarang media-media itu tak ada lagi dijual di sini, barangkali di negara asalnya juga tak ada, sudah berkubur. Yang ada hanya tinggal Suara Hidayatullah, Sabili, Suara Muhammadiyah. Dan di Malaysia Suara Hidayatullah dan Sabili lebih menonjol berbanding Suara Muhammadiyah.

Lain-lain media cetak Indonesia yang memasuki pasaran Malaysia ialah majalah mingguan Tempo dan Gatra. Pembacanya ahli akedemik, penyelidik dan kalangan penulis. Terdapat juga di Malaysia Majalah Horison . Pembaca setianya dari kelompok sasterawan.

Yang menyedihkan dalam hal ini ialah merosotnya media-media Islami. Ke mana perginya media-media itu. Indonesia memiliki jumlah umat Islam paling ramai di dunia, seharusnya ada puluhan majalah Islami dilahirkan, untuk melawan serangan media nasionalis dan bukan Islam yang setiap hari menghentam Islam.

Namun tidak dinafikan, penerbit-penerbit Islam seperti Al Kautsar, Gema Insani, Mizan dan beberapa lagi di Jakarta. Di Yogya ada Mitra Pustaka / Pustaka Pelajar, di Solo ada Aqwan dan banyak lagi penerbit di kota ini, namun belum dapat mengedar buku-bukunya dengan baik, kerana belum mempunyai toko buku Islam, seperti yang dimiliki oleh Group Kompas, yang mempunyai rangkaian kedai buku Gramedianya di kebanyakan kota-kota utama di Indonesia. Kompas Group dan Gramedia dikuasai majoriti dari kalangan beragama Kristian Katolik.

Perkembangan media cetak Indonesia menlonjat stelah reformasi 1998. Jumlah media cetak keseluruhannya baik yang harian, mingguan mahupun yang terbit bulanan mencapai 955 penerbit, baik akhbar biasa, tabloid mahupun majalah, dan dari 33 negeri di Indonesia hampir semua mempunyai media paling tidak mesti ada satu media. Ini tidak lain kerana kebebasan media dan kemerdekaan bersuara tanpa sekatan dari pihak pemerintah, terutama setelah reformasi. Semua media dimiliki pihak swasta.

Begitu pula dengan radio dan televisi. Jumlah radio ada 378 rangkian dan televisi 118 saluran, termasuk beberapa rangkaian / saluran dipunyai pemerintah. Laporan pemberitaannya sangat telus. Sewaktu di Surabaya sempat menonton sebuah program televisi pagi. Ditampilkan seorang juara pemidato peringkat sekolah menengah. Pidato oleh anak itu bagus sekali, suara mahupun intinya. Beliau menghujah dengan penuh semangat bahawa “ Di negara kita, seorang mencuri sebiji nangka, ditangkap dan dipenjarakan, tapi yang mencuri / merampok billioner bisa terlepas dari hukuman” Ternyata televisi di Indonesia lebih berterus terang berbanding TV Malaysia. Semua yang disampaikan tidak disembunyikan, mengkritik pemerintah secara terbuka juga tiada sekatan.

Barangkali itulah nikmat kemerdekaan bersuara dan kebebasan media yang diperolehi hasil dari reformasi 1998. Namun peluang yang baik itu tidak direbut umat Islam. Sepatutnya umat Islam mengisi peluang itu dengan membangun kekuatan ilmu, terutama dalam bidang penguasaan media dan penerbitan majalah serta buku-buku Islam terbaik.

Saat berkunjung ke stesen radio Suara Muslim Surabaya, sempat bertanya salah seorang pembinanya, Mushin Toyib Abbas “Berapa kira-kira jumlah radio Islami dengan radio non-Muslim di Indonesia?” Jawab pria 40an itu “Nisbah. 4 Kristian, satu Muslim” Satu stastik yang sangat mengkhuatirkan umat Islam, bukan saja di Indonesia bahkan di Malaysia.

Friday, July 22, 2011

Belajar Penerapan Syariat Islam Dari Negeri Kelantan

(Maklumbalas dari Hidayatullah.com, Indonesia, sesudah kami melakukan silaturahim ke kantor SH, di Surabaya tanggal 14 Julai 2011)

Kamis, 21 Juli 2011
Apa yang Anda tahu dari Kelantan? Pasti tidak sedikit yang menjawab Manohara Odelia Pinot.
Begitu juga kalau googling kata Kelantan di internet, banyak situs dalam negeri yang memberitakan kasus gadis cantik asal tanah air ini dengan Putra Mahkota Kerajaan Kelantan, Pangeran Tengku Muhammad Fakhry.

Beberapa waktu lalu, kasus itu mencuat dan menjadi sorotan media di tanah air. Hal ini menunjukkan bahwa berita soal negeri yang luasnya sekitar 14.922 km2 ini, di negeri kita masih didominasi seputar Manohara dan Tengku Fakhry. Tapi, apa benar berita yang paling menarik di Kelantan-Malaysia hanya soal kisruh rumah tangga itu? Ternyata tidak! Jadi, apa itu?

Belum lama ini, dalam lawatannya ke Kelompok Media Hidayatullah, Menteri Komunikasi dan Informasi Negeri Kelantan Yang Berhormat (YB) Dr. Mohammad Fadli bin Dato' Haji Hassan mengatakan, berita yang tersiar di luar Kelantan selama ini memang masih didominasi berita tidak penting dan cenderung tendensius pada Kelantan.

Hal itu, menurutnya, karena Islam mulai berkembang pesat di sana. Tidak hanya berita seputar Manohara dan Tengku Fakhry, kata Fadli, kebanyakan berita asing tidak adil memberitakan soal Kelantan. Apalagi pada media ada adagium: good news is bad news and bad news is good news. Dalam hal ini, bagi media asing sekuler, perkembangan Islam di Kelantan merupakan mimpi buruk. Karena itu, wajar bila selama ini media menyorot hal-hal yang remeh temeh dan cenderung tendensius.

Kini, kesan yang tergambar di Kelantan adalah wujud intoleran, dan eksklusif. Padahal, faktanya Islam di Kelantan justru menjadi berkah bagi sekitar 1.6 juta jiwa warganya. Bahkan, keberkahannya itu tidak saja bagi warga muslim, tapi juga nonmuslim yang mayoritas orang China kaya raya.

Karena itu, doktor Fadli pun menegaskan, bila kedatangannya ke Indonesia itu untuk mengabarkan kondisi kehidupan warga Kelantan yang makmur di bawah Islam. Fadli pun berharap, orang di luar Kelantan, khususnya warga Indonesia yang mayoritas Islam secara obyektif bisa menilai Kelantan.

Seperti dikatakan Fadli, kini di Kelantan tidak ada lagi tempat pelacuran, diskotik, miras, atau pun panti pijat. Tidak adanya tempat haram itu justru yang paling merasa diuntungkan adalah ibu-ibu China.
Faktanya, mereka datang dan berterimakasih kepada pemerintah Kelantan. Katanya, dengan tidak adanya tempat pelacuran dan miras, suami mereka tidak pulang larut malam lagi. Uang mereka juga tidak habis sia-sia.

Kemilau Islam di Kelantan juga menyedot perhatian orang di negeri luar Kelantan. Hampir tiap pekan tidak sedikit orang, baik muslim maupun nonmuslim yang berkunjung ke Kelantan hanya sekadar melihat-lihat dan menanyakan bagaimana Islam diterapkan di Kelantan. Setelah melihat dengan mata kepala sendiri, mayoritas mereka takjub dan tertarik terhadap peragaan Islam yang ada di Kelantan.

Politik dan Dakwah


Kondisi Islam di Kelantan seperti sekarang setidaknya dimulai dua dasawarsa lalu. Ketika Pan-Malaysia Islamic Party (PAS), partai oposisi di Malaysia memenangkan pemilu pada tahun 1990. Ketika itu, Kelantan dipimpin oleh YAB Tuan Guru Dato’ Haji Nik Abdul Aziz bin Nikmat.

Awalnya, banyak tokoh yang meragukan kepemimpinan beliau: Apakah guru agama bisa memimpin negara. Tapi, keraguan itu ditepis olehnya. Kelantan bisa dipimpin dengan baik. Bahkan, akhirnya bisa maju di berbagai bidang: pendidikan, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. Kesemuanya itu dibangun dengan pendekatan Islam.

Dari sisi historisnya, Kelantan sebenarnya sangat erat dengan syariat Islam. Lihat saja, kata DR. Fadli, sejak tahun 1511, Malaysia, termasuk Kelantan, diperintah raja-raja yang menjalankan syariat Islam. Bukti sejarah itu pun ada berupa UU yang berdasarkan syariat Islam, seperti UU jinayah, muamalah, dan negara. Tapi, setelah sekitar 400 di bawah jajahan Inggris, syariat Islam di Malaysia, khususnya di Kelantan mengalami defisit yang signifikan.

Modus yang dilakukan penjajah awalnya adalah perdagangan. Mereka melakukan jual beli. Tapi, lambat laun, mereka tidak saja berdagang, melainkan melakukan penjajahan.
Mulanya menjajah secara ekonomi, lalu kemudian menjajah syariat Islam. “Mereka mengubah cara pandang dan hidup dan mengubah syariat Islam di Malaysia dan Kelantan secara perlahan-lahan,” tegas Fadli.

Akibatnya, terjadilah sekularisasi: pemisahan antara agama dan negara. Negara dikelola dengan hukum penjajah. Syariat Islam dihilangkan. Tapi, lambat laun, ulama bangkit. Mereka ingin agar syariat diberlakukan kembali.
Tapi, culasnya penjajah tidak mau begitu saja. Penjajah bersedia memberikan kemerdekaan asal syariat Islam tidak dipakai sebagai konstitusi. Karena itu terpecah menjadi dua kelompok: yang mau tetap Islam dan ada yang ingin Islam dan kemerdekaan. Jadilah Malaysia seperti sekarang ini.

Usaha mengembalikan syariat Islam di Kelantan masih berjalan hingga kini, hanya dengan cara yang berbeda dan elegan. Di Kelantan setidaknya ada dua gerakan yang memperjuangkan syariat Islam. Satu gerakan partai PAS dan yang kedua gerakan LSM atau NGO biasa.
NGO mengusung dakwah dan tarbiyah. Tapi, hebatnya, dua gerakan ini bisa bersinergi dan saling mendukung. LSM di Kelantan mendukung partai dalam setiap pemilu. Karena itu, PAS di Kelantan selalu menang. “Perjuangan kita tidak saja lima tahun di pemilu. Tapi jauh ke depan. Dan itu kita bangun dengan bahu membahu setiap elemen, baik yang berada di partai ataupun NGO,” kata Fadli.

Sebagai negara bagian, Kelantan harus mengikuti sistem negara persekutuan Malaysia yang terpusat di Kuala Lumpur. Karena itu, untuk peraturan syariat Islam Kelantan harus pandai-pandai mengatur strategi. Tidak bisa langsung frontal dengan pemerintah. Sebab, sekitar 80 persen UU harus terpusat. Meski faktanya, Kelantan juga kerap disebut pembangkang.

Dalam mengusung syariat Islam misalnya, Kelantan memakai istilah lain, yaitu negeri berkebajikan perjuangan. Meski istilah beda, tapi substansi yang diperjuangkan sama, Islam. Tapi, hal itu menghindari kesan negatif terhadap Islam. Kini, Islam sudah bisa diterima masyarakat. Perbankan syariah muncul, pendidikan Islam menjamur, dan sistem sosial secara Islam sudah mulai diberlakukan. Meski belum seratus persen syariat Islam, tapi setidaknya Islam di Kelantan sudah dielu-elukan masyarakat.

Fadli bercerita, suatu saat ia ditanya warga Kelantan keturunan China. “Syariat Islam kan tidak manusiawi. Hukumnya kasar dan kejam: seperti pezina harus dirajam?”
Fadli balik bertanya. “Apa yang akan Anda lakukan jika pulang ke rumah dan melihat istrimu dizinahi orang lain”? Orang China tersebut menjawab, “Saya akan ambil parang lalu membacoknya”.

Lantas, bagaimana bila Anda melihat di rumah anak perempuan Anda dizinahi orang yang bukan suaminya? Seperti di awal, orang China itu menjawab, “Saya akan ambil parang lalu menebas lehernya.”
Fadli pun berkata, “Nah, adanya hukum rajam itu agar perzinahan tidak terjadi. Mereka pasti takut dirajam.”

Lain waktu Fadli ditanya lagi, dan lagi-lagi orang China. “Kenapa orang mencuri harus dipotong tanganya, bukankah itu kejam?”
“Lho, bukannya dengan dipotong tangannya, orang tidak akan berani mencuri. Dan dengan itu, mencegah kriminalitas,” jawabnya.
Orang China tersebut masih diam. Fadli pun melanjutkan, “Bukannya dengan tidak ada pencurian harta kalian jadi aman. Bukankan kalian (Orang China) di Kelantan mayoritas kaya dan tauke?” tuturnya.*/Syaiful Anshor

Red: Syaiful Irwa

KOMENTAR

Amirudin
, Jum'at, 22 Juli 2011
Al Hamdulillah masih ada negara yang siap menjalankan syariat islam walaupun belum sempurna, boleh tuh negara Indonesia yang mayoitas Warga Muslim terbesar di Dunia patut untuk di tiru, kan kalau diterapkan tidak merugikan siapa2 bahkan menguntungkan lagi ( mau untung apa rugi ayoooooooooo)

I Love Islam , Jum'at, 22 Juli 2011
Aneh memang: kenapa orang pada tidak suka dengan syariat Islam. padahal hanya dengan hukum Allah manusia bisa bahagia dan sejahtera. Kenapa manusia lebih suka UU buatan manusia? Buktinya korupsi, ketidakadilan, dan kesengsaraan terjadi dimana-mana. harta hanya dikuasai para kapital, hukum hanya tajam ke bawah. Tidakkah kalian paham wahai manusia?..........

Alex , Jum'at, 22 Juli 2011
semoga rahmat Allah di kelantan akan sampai ke negeri Aceh darussalam sampai Irian Barat

Arfani Aziz , Jum'at, 22 Juli 2011
ga usah jauh-jauh, kita juga punya di aceh.. kalau hidayatullah mendukung, antum sekalian harus terjun ke politik dan merubah sistem sekuler-liberal saat ini.. partai islam di parlemen itu kan jualannya aja islam, tp pas masuk parlemen lupa dengan yang dijualnya ke publik..

Sayed Muhammad Husen , Jum'at, 22 Juli 2011
boleh belajar juga ke aceh

Top_player , Jum'at, 22 Juli 2011
nah PKS sudah kesana belum ya untuk stdi banding dengan PAS... anggota DPR juga ngapaen jauh2 ke yunani, lah ditetangga sendiri aja ada sistem yang jauh lebih baik kok

Nandi Junaedi , Jum'at, 22 Juli 2011
di kelantan juga sudah pake dinar - dirham lho.. subhanalloh..