Tuesday, February 13, 2018

Bila politikus berorientasikan material





Oleh: Rossem

Tahun baru Cina  2018 baru  dirayakan. Asal usul  perayaan terpenting orang Cina itu terlalu panjang, cukup dengan mengatakan ia bermula sebelum Masehi.  Yang sering kita lihat di Malaysia ialah, sehari sebelum ketibaan tahun baru Cina, orang-orang  Cina akan berhimpun, seringanya di rumah ibu bapa mereka. Yang berada di perantauan akan pulang, yang berkeluarga bawa anak cucu berkumpul dalam satu keluarga besar.  Jam  7 sore acara   makan malam bersama diadakan. Hubungan kekeluargaan kekal bertaut. Tradisi yang wujud sejak berzaman, kekal sehingga ke hari ini. Perayaan berakhir sehingga hari Cap Go Meh.   

Yang pasti,  tahun baru Cina atau Gong Xi Fa Cai atau  hari raya imlek  merupakan momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali dalam setahun. Anggota keluarga akan bersilahturahmi, saling berbagi dan memberikan pengalaman selama setahun. Perayaan ini menjadi sangat bererti takala setiap anggota keluarga dan tetangga saling menjalin kasih sayang  dan memulai langkah memasuki lembaran baru untuk tahun berikutnya.

Tahun  baru Cina bukan topik tulisan ini. Ia perayaan sepertimana umat Islam merayakan hari raya aidilfitri dan aiduladha. Yang mahu  diceritakan ialah bagaimana Maharaja China dahulu kala membina Tembok Besar Negeri China. Tulisan  Jarred Diamond  yang disarin kawan saya Ahmad Antawirya  sangat menarik, penulis itu memperolehi penghargaan Pulitzer.

 Dalam sebuah pidatonya Jarred pernah mengatakan bahawa negara seperti Indonesia, Columbia dan Filipina, merupakan beberapa peradaban yang sebentar lagi akan punah. Walaupun Malaysia tak disebut, untuk kewaspadaan kita bersama, biarlah saya memasukkan dalam senarai cemas itu sebagai renungan.

Ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok yang sangat besar. 
Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup meceroboh dan memasuki  kerena tinggi sekali. 

Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina  terlibat tiga kali peperangan besar. Pada setiap kali terjadi peperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang.

China di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia. Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang diperlukan  oleh semua bangsa.

Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sesuatu  bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, iaitu hancurkan institusi keluarga, hancurkan sistem pendidikan dan hancurkan keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan (dalam kontek Malaysia – ulama).


 Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu. 
Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita kerjaya  ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan kesamarataan.

Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peranan  guru. 
Kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan material  semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.

Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan rohaniwan/ulama adalah dengan cara melibatkan mereka ke dalam politik yang berorientasi material  dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai. Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya. 

Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para rohaniawan /ulama dan tokoh terbilang  sudah tandus, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur ? 

Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah. Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tanggu.



No comments:

Post a Comment