Sunday, January 23, 2011

Setiakawan Malaysia-Indonesia diteruskan


Oleh: Rossem
Alam Melayu adalah wilayah di mana negara Indonesia dan Malaysia berada. Istilah Alam Melayu lebih popular di Malaysia, sementara istilah Nusantara lebih sinonim dengan Indonesia. Namun kedua-dua istilah itu pada asanya adalah sama. Agar tidak berbau Malaysia dan tidak berbau Indonesia maka aktivis hubungan setiakawan antara kedua negara yang berlangsung 15 Januari 2011, di rumah Gabungan Persatuan Penulis Malaysia (Gapena), Kuala Lumpur, menyebutnya sebagai “Alam Melayu-Nusantara”.

Ahli panel pada forum itu ialah; Dosen Akademi Pengajian Melayu Universitas Malaya (UM), Prof. Madya Datuk Zainal Abidin Borhan dan Ahli Sosiologi Indonesia, Profesor Dr. Amri Marzali. Turut hadir ialah Ketua Satu Gapena, Profesor Emeritus Tan Sri Ismail Hussein. Sementara Prof. Dr Zainal Kling sebagai moderator.

Profesor Dr Amri sebagai panelis pertama memulakan diskusi dengan menyebut: Dalam konteks Alam Melayu-Nusantara tercetus hubungan persamaan sebagai “bangsa serumpun” antara Indonesia dengan Malaysia sejak zaman berzaman. Secara sosial-politik-ekonomi-kultural, sejak awal Semenanjung Melayu dan Sumatera sudah merupakan bagian yang integral. Raja Melaka berasal dari Sumatera (Palembang), Kerajan Riau-Johor kadang-kadag berpusat di Sumatera kadang-kadang di Semenanjung. Negeri Sembilan adalah cawangan kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagar Ruyung, Sumatera. Majoriti dari orang Melayu di Semenanjung adalah berasal dari suku-suku bangsa di Sumatera, khususnya Minangkabau, Kerinci, Palembang, Jambi, Mandailing, Melayu Sumatera dan Acheh. Juga dari Jawa dan Sulawesi (Bugis).

Malaya dijajah oleh British, sementara Indonesia oleh Belanda. Dalam mengeruk alam Melayu, British mendatangkan banyak tenaga buruh dari India dan China, sehingga pada suatu masa tertentu jumlah kedua “jentera ekonomi” penjajahan British ini pernah melampaui jumlah kaum Bumiputera.

Di Indonesia, perjuangan kemerdekaan ditujukan terhadap penjajah Belanda dan talibarutnya. Perang meletus. Dalam perang kemerdekaan itu (1945 -1949), banyak terjadi saling tolong menolong antara rakyat Melayu Semenanjung dan rakyat Sumatera, saling menyeberangi Selat Melaka, dan seludup senjata dan keperluan peperangan lain. Republik Indonesia mengistiharkan kemerdekaan tahun 1945. Dan 12 tahun kemudian, (1957) Malaya pula memperolehi kemerdekaan dari British.

Hubungan Indonesia dengan Malaya, setelah kemerdekaan Persekutuan Tanah Melayu, lebih banyak diwarnai oleh “perbedaan- pertentangan”. Ada dua factor utama yang berada di belakang keadan ini, iaitu faktor “Tunku Vs Soekarno” dan faktor “perang dingin antara kapitalis dan komunis dunia”.

Latar belakang sosial, kultural dan politik kedua tokoh ini, iaitu Tunku dan Bung Karno sangat berbeda. Tunku adalah anak Sultan Kedah dari perempuan Thai. Diasuh dan hidup senang dalam lingkungan istana, terdidik dalam sistem pendidikan dan budaya Inggeris. Mendapat ijazah undang-undang dari sebuah universitas di Inggeris. Tidak bergaul dengan rakyat dan berpandangan liberal.

Soekarno adalah anak seorang priyayi Jawa dengan seorang perempuan kasta tinggi Bali. Dari kecil hidup di tengah rakyat biasa. Dalam bidang politik dan agama diasuh oleh tokoh Syarekat Islam, Haji Omar Said Tjokroaminoto di kota Surabaya. Sejak masa studen sudah berjuang bagi kemerdekaan Indonesia.

Soekarno memandang Tunku sebagai seorang pangeran Melayu yang hidup di dalam camp penguasa kolonial. Tunku pula tidak senang dengan Soekarno yang hidup secara flamboyant tapi revolusioner, mencurigai kedekatan hubungannya dengan blok komunis (Russia-China). Merendahkan Indonesia yang dipimpinya terutama dalam sektor ekonomi. Keduanya berbeda secara sosial, kultural dan ideologi politik.

Perbedaan pendapat dan saling curiga-mencurigai itu, terutama setelah Tunku berhasrat menubuhkan negara federal Malaysia yang terdiri daripada Malaya, Singapura, Brunei, Sarawak dan Sabah. Bung Karno memandang ini sebagai projek Nekolim Inggeris, bukan pemikiran asli dari Tunku. Indonesia meminta agara diselengarakan plebisit di Borneo Utara. Tapi ditolak oleh Tunku. Indonesia marah lalu melancarkan konfrontasi (1963-1966).

Hubungan baru dibangun oleh Perdana Menteri kedua Malaysia, Tun Abdul Razak Hussein dan Presiden ke dua Indonesia, Soeharto dalam bentuk yang lebih baik dan damai. Kongsep bangsa serumpun kembali bergema dengan lebih nyata. Apakah faktor yang berada di belakang persahabatan baru ini? Antara faktornya Razak-Soeharto dan Menteri Luar kedua-dua negara, Adam Malik-Ghazali Shafei, faktor Singapura keluar Malaysia, faktor Mei 1969 di Malaysia dan ekonomi.

Tun Razak di Indonesia terkenal sebagai keturunan Bugis, sementara Adam Malik dan Ghazali Shafei adalah masih berkerabat sebagai orang Mandailing. Dalam hal ini faktor semangat bangsa serumpun menjadi berperan. Sementara itu Ali Moertopo yang sama-sama dengan Soeharto adalah pemimpin-pemimpin tentera yang anti komunis.

Dalam zaman Tun Razak juga, Indonesia dan Malaysia menyelenggarakan kerjasama latihan militer: Malindo Samatha, Malindo Jaya, Malindo Mini dan Kris Kartika. Kerjasama dalam bidang pendidikan dan kebudayaan pun dipertingkatkan. Indonesia dan Malaysia muncul sebagai penaja organisasi ASEAN.

Selat Melaka pula diistiharkan sebagai perairan bukan-internasional tapi berada di bawah kawalan Indonesia dan Malaysia. Tidak seperti Tunku, Tun Razak tidak banyak menyimpan kecurigaan kepada Indonesia. Zaman pemerintahan Razak, adalah zaman kecemerlangan hubungan serumpun Indonesia-Malaysia. Dan polisi Tun Razak kemudiannya dilanjutkan oleh Perdana Menteri ketiga Malaysia, Tun Hussein Onn.

Pada zaman Tun Razak, Malaysia memjemput guru dan dosen dari Indonesia mengajar di Malaysia, terutama di Jabatan Pegajian Melayu bertujuan untuk mempertingkatkan kesusteraan Melayu. Antaranya yang terkenal ialah Sultan Takdir Alisjahbana.

Hubungan mesra kedua negara pada zaman Dr Mahathir Mohamad (Perdana Menteri Malaysia keempat) mulai agak terhakis. Ada faktor Mahathir berperan dalam penurunan taraf hubungan ini. Sedang Indonesia masih dalam kekuasaan Soeharto.

Mahathir adalah seorang pemimpin yang mempunyai karakter tersendiri. Di bawah kepimpinannya ekonomi Malaysia maju pesat dan secara politik pula Malaysia mula berperan di arena internasional. Mahathir bahkan muncul sebagai jurucakap dunia ketiga. Kondisi ini mencabar kepimpinan Indonesia di bawah Soeharto.

Percanggahan tentang status Sipadan dan Ligitan muncul ke permukaan secara serius untuk pertama kali. Mulanya disepakati kedudukan status quo untuk pulau-pulau ini, tapi kemudian Malaysia membina fasiliti pelancongan di pulau berkenaan. Akhirnya perselisihan disepakati untuk diselesaikan oleh Internasional Court of Justice (2002), kemudian ternyata perselisihan ini dimenangkan oleh Malaysia. Berbagai masalah sempadan muncul pada masa Mahathir ini, yang terus diwarisi oleh Abdullah Badawi (Perdana Menteri kelima) dan Najib (Perdana Menteri keenam).

Migrasi dari Indonesia ke Semenanjung sudah biasa sejak dahulu. Pada zaman Tun Razak, Malaysia menjemput guru dan dosen dari Indonesia. Tapi corak migrasi pada zaman Mahathir, Abdullah Badawi dan Najib berbeda. Yang datang adalah pekerja-pekerja kasar, kurang terdidik, dan miskin dari perdesaan, yang bekerja di sektor perladangan, pembangunan di perkotaan, dan sebagian lain bekerja sebagai pembantu rumah. Mereka adalah dari kelas bawah, yang dipanggil dengan sebutan “Indon” oleh orang Malaysia.

Tapi yang lebih serius daripada itu adalah masalah migran gelap, yang berperan sebagai punca masalah sosial di Malaysia. Tahun 1981 diduga ada 100,000 migran gelap dari Indonesia, tahun 1987 mencecah 1 juta orang. Sekarang (2011) diduga 2 juta orang. Efek negatif dari migran ini adalah jenayah: pencurian, perompakan, pembunuhan dan sebagainya. Tiga puluh enam persen dari banduan di penjara Malaysia adalah migran dari Indonesia. Pemulangan migran gelap dilakukan berkali-kali.

Bagi Indonesia pula, masalah migran Indonesia adalah tentang perlakuan kasar majikan terhadap pembantu rumah, pemberian gaji yang kecoh oleh majikan, dan perlakuan kasar dan menghina oleh polisi dan relawan Malaysia terhadap migran Indonesia. Masalah ini menjadi salah satu punca hubungan tidak harmoni antara kedua
negara.

Ada kecenderungan semangat bangsa serumpun makin terhakis di Indonesia, kerana kekcewaan atas sikap “aroganasi” saudara serumpun di Malaysia.

No comments:

Post a Comment